Sebuah cerpen pemberi pelajaran berharga
HIKMAH DIBALIK KESEPIAN DAN KEMEGAHAN SEBAGAI TITIPAN
(Oleh : Silvia Sri Rahayu)
Matahari nampak sangat terik, Langit seakan hamparan bara membuat orang lupa diri karena terperdaya oleh panasnya. Hari silih berganti waktu tak henti merobek hari.
Disebuah komplek perumahan hidup seorang gadis muda, Agliza Namanya.
Gadis ini merupakan anak dari sepasang suami istri yang terpandang, kekayaan
nya yang dikata orang tidak akan habis sampai tujuh turunan, benar adanya dan
kekayaan itu dikira takan pernah membuat Agliza dan keluarganya merasa
kekurangan.
Keluarga Agliza beragama Islam tapi mirisnya gemerlap dunia telah
membuat mereka terperdaya lupa akan kewajibanya untuk beribadah kepada Allah SWT, keseharian Agliza
semasa kecil hingga dewasa selalu ditinggal ayah dan ibu nya untuk bekerja, dia
jarang sekali diajarkan perihal agama bahkan ibadah nya tak pernah diperhatikan
malah dihujani dengan uang untuk
kepuasan. Tapi pengasuhnya berhati mulia selalu mengajarkan dan menanamkan
nilai-nilai agama dalam dirinya.
Sampai lah pada waktu dimana Agliza telah beranjak remaja Ia menjadi
anak shalehah yang selalu tepat waktu dalam beribadah.
Fajar mulai menyapa adzan yang dikumandangkan memenuhi panggilan jiwa, gadis
cantic bernama Agliza pun terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat
subuh dan seperti biasa Ia dibangunkan oleh bi Oci yang selalu menemaninya,
ayah dan ibunya tak sempat bercengkrama dengan anaknya karena mereka sibuk
menyiapkan diri untuk pergi ke kantor.
“biiiiiiii…..”. (teriak ayah).
“Iya pak…”. (bibi menjawab panggilan ayah Agliza sambil bergegas
menyudahi pekerjaanya di dapur untuk
menhampirinya).
“Bii… tolong bangunkan agliza ya ! kasih dia sarapan dan ini uang untuk
dia berangkat kesekolah ya bi”.
(bi Oci bergunam dalam hatinya ), “lagi dan lagi ayah nya selalu
menyuruh aku untuk membangunkan Agliza dan memberikannya uang padahal yang seorang
anak mau bukan cuma uang tapi kasih sayang”
“baik pak…(bi Oci pun menjawab printah ayah agliza)
“oh iya pak semalam sebelum Agliza tidur dia nyuruh bibi untuk meminta
bapak agar bisa mengantarkan nya ke sekolah”.
“ ahhhh tidak bisa bi saya sibuk
ada meeting, suruh mang ujang untuk mengantarkannya !!!”
( Ayah Agliza pergi menyudahi pembicaraan dengan bi Oci).
Tak lama kemudian ibunya menghampiri Agliza ketempat tidurnya yang tak
jauh dari tempat bi Oci dan ayahnya berbincang, dengan segera Agliza berpura-pura
tidur menyelimuti diri karena tahu ibunya akan menghampirinya, …
Ibunya berbisik… “nak maafkan ibu, ibu harus pergi ke kantor sambil
mencium kening anak gadisnya” kemudian ibunya pergi meninggalkan Agliza dan
menutup pintu kamarnya.
Agliza mendengarkan percakapan bi Oci dengan ayah nya dan mendengar
bisikan dari ibunya sontak Agliza menangis karena Ia ingin sekali bisa
menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya. Tapi dikarenakan urusan kantor,
impiannya untuk shalat dan mengaji bersama belum juga kesampaian.
“Liza …. (panggil bi Oci sambil membuka pintu)
“iya bi… kenapa ?”
“Kamu sudah bangun nak …”
“Iya bi sudah selepas subuh Liza gak tidur lagi bi …”
“Oh begitu nak Liza, ini uang bekal buat pergi kesekolah”.
“Uang lagi bi …?”.(Agliza menunduk sedih).
“Iya nak maafkan bibi ya tidak berhasil membuat ayah kamu mengantarkan
mu ke sekolah…”
“Iya bi tidak apa apa …”
“Ayah pasti lagi sibuk banget, padahal sekarang itu ada kegiatan
wawancara harusnya bersama orang tua…”
“Ya sudah sama bibi aja gimana nak …?”. (Tanya bi Oci )
“Alhamdulillah baiklah bi tidak papa sama bibi saja …yaudah bibi
siap-siap dulu aja ya…Liza juga mau siap siap dulu,”.
Padahal Agliza berharap ditemani ayahnya tapi karena ayah nya selalu sibuk
dan Ia hanya bisa terus bersabar dan rupanya uang yang dikasih oleh ayahnya
selalu dia simpan sampai lemarinya penuh sekali dengan celengan, karena Ia
mulai belajar menabung dari usia 8 tahun dan sekarang sudah berusia 16 tahun.
Satu bulan kemudian
Gugur gemuruh semilir angin membawa pesan duka kepada keluarga Agliza, Perusahaan
ayah dan ibunya bangktrut total dengan seketika karena ada sebuah virus yang
tengah menyerang bumi ini di tambah ada beberapa pegawai yang korupsi sehingga dalam
kurun waktu satu bulan persuhaannya berhenti beroprasi, segala kekayaannya pun
seketika menghilang layang tak ada ditangan.
Dimalam hari tiba-tiba telpon ayah Agliza berbunyi “kring.. kring…
Ayah agliza menerima telpon dari salah satu pegawainya “Assalamualaikum
pak bos…
Waalaikumussalam (Jawab ayah agliza)
Ada apa Nurdin nelpon malam malam…
“Pak gawat ada beberapa pegawai yang diduga korupsi sehingga perusahaan
kita berhutang ke bank miliaran rupiah pak dan satu masalahn lagi jumlah
konsumen menurun akibat wabah virus rokona ini.”
Keadaan sangat kacau, semalaman ayah agliza tidak tidur karena
memikirkan hal tersebut,.
Keesokan harinya ada beberapa pegawai bank datang ke rumahnya menyita
rumah, mobil dan semua harta yang dimilikinya.
Ibu agliza syok mendengar rumah mewahnya akan di sita, beberapa hari
setelah itu ibu agliza mengalami depresi berat hingga hilang kesadarannya,
ditengah wabah rokona ini kehidupan Agliza dan keluarganya jauh berbeda dengan
kehidupan sebelumnya yang dipenuhi dengan kemewahan.
Untungnya Agliza punya celengan yang sudah Ia simpan dan tabung selama 8
tahun, ternyata Alhamdulillah cukup untuk membeli rumah kecil sebagai tempat
tinggal sementaranya.
Agliza berusaha membuat ayahnya ikhlas dan bersabar dengan apa yang
sedang mereka alami,
Beberapa kali Agliza mengajak ayahnya untuk membaca ayat suci Al-Quran beberapa
kali juga ditolak sang ayah, tapi dia tidak gentar dan tidak menyerah terus
mengajak ayah nya untuk mengaji meski penolakan senantiasa Ia terima. Setiap
hari selalu kena marah sang ayah tapi Agliza tetap sabar, dan karena ibunya
mengalami depresi teman teman Agliza pun
jadi menghina ibunya dikata gila, tapi remaja cantic ini tak pernah marah atau
pun membalas hinaanya Ia senantiasa bersabar dalam menghadapi semuanya, meski
usianya masih belia, namun pola pikirnya sudah seperti orang dewasa dan sudah
bisa setabah ini dalam menghadapi ujian yang Allah SWT beri.
Rupanya Agliza selalu mengingat hal yang di ajarkan Bi Ocih dikala waktu
kecilnya, bi Ocih mengajarkan Agliza untuk bersabar, liza innallaha ma’ashobirin
artinya sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Maka dari itu Agliza
harus sabar ya nak. Ucapan bi oci waktu dulu.
Agliza selalu mengingat hal itu sehingga apapun yang tengah dihadapinya Ia
hadapi dengan sabar dan ihklas.
Setiap hari Ia selalu berjualan online sehingga cukup untuk ayah dan
ibunya makan, dari adanya virus rokona ini harapan Agliza untuk menghabiskan
waktu dengan keluarganya terpenuhi, dan beberapa minggu kemudian setelah sekian
kali nya ajakan mengaji kepada ayahnya selalu ditolak, tapi malam itu ayah
terketuk hatinya setelah mendengarkan adzan maghrib berkumandang dia langsung
bergegas mengambil air wudlu mengajak Agliza untuk shalat berjamaah dan
melaksanakan shalat berjamaah, kemudian ibu Agliza yang tengah mengalami depresi
di tuntun oleh Agliza untuk berwudhu dan di pakaikan mukena ke sang ibunda,
“ibu…. Agliza sayang ibu, ibu harus bisa kuat ya… harus sabar dan ikhlas
atas apa yang tengah menimpa keluarga kita saat ini”. (Agliza berbicara kepada
ibundanya seraya memakaikan mukena kepadanya, tapi ibunya masih saja belum bias
merespon, Ia hanya terpelongo seakan tidak mengerti apa yang di ucapkan anaknya).
Hari itu merupakan hari dimana pertamakalinya melaksanakan shalat
berjamaah bersama-sama dan ini salah saatu harapan agliza sejak dulu.
Maha suci Allah yang maha penyayang di rakaat terakhir seusai mengucap
salam ibu Agliza menangis dan perlahan kesadaranya kembali. Sontak Agliza dan
ayahnya memeluk ibu Agliza sambil mengucap penuh syukur kepada allah swt.
Dari sana kehidupan keluarga Agliza meskipun dalam keadaan sederhana tapi dibanjiri dengan kebahagiaan, ayahnya kembali lagi membangun bisnisnya dengan memanfaatkan kemampuan atau pengalamannya selama Ia menjadi pimpinan di perusahaan. Iya mendirikan komunitas seminar online yang memabahas tenang managemen perusahaan dan lain sebagainya, pundi-pundi rupiah yang di hasilkan ayah nya perminggu Alhamdulillah bisa mencukupi keluarga nya dan ibunya senantiasa jadi pembicara dalam kajian muslimah online sehingga kehidupan mereka lebih bahagia dan sejahtera.


Komentar
Posting Komentar